My First Love
Rapat keanggotaan ini cukup ramai. Tampak suara anak-anak yang berbincang-bincang disekelilingku. Memang, kami sedang menunggu Bu. Mentari, ketua penyelenggara dari acara ulang tahun sekolah. Tapi, keramaian ini tidak membuat seorang cowok yang yang sejak tadi mencuri perhatianku terganggu. Mungkin di otaknya kini ia sedang mengira-ngira apakah ia bisa tahan deket-deket sama bebek-bebek yang semenjak tadi ngoceh tak henti-hentinya ini.
“Bell.. kamu denger nggak?” seseorang menyenggol sikuku. Aku menoleh
“Apaan sih Mel?” tanyaku gusar merasa terganggu
“Duh Bella... capek deh!! Kamu lagi liatin apaan sih?”
“nggak... aku kan cuman boring aja Mela… Mana sih Bu. Mentari? Dia udah telat banget nih” Omelku
“Iya… ya….” Jawab Mela yang akhirnya terdiam juga. Kediaman Mela ini membuatku menoleh ke arah cowok itu lagi, menikmati kegantengan dan kecuekkannya, tapi ternyata cowok itu juga melihatku dengan tatapan yang sulit ditebak dan tajam. Seakan-akan sedang membaca pikiranku. Seketika aku membuang muka, menatap lembar kosong yang berada di depanku.
“Mampus aku” ucapku lirih
“Apa Bell?” Mela yang berada di dekatku mendengarnya. Aku menoleh dan segera menggeleng.
“Trus tadi kamu ngomong sama siapa?” tanyanya heran
“Eeng..” aku berpikir untuk mencari jawabannya, tetapi pintu meeting room terbuka dan Bu. Mentari datang dengan senyum tanpa bersalahnya yang ngeselin banget.
“Bel.. aku udah telat banget nih... aku belum telpon nyokap lagi, duluan yaa Bel” ucap Mela tergesa. Sudah sampai tengah jalan Mela berbalik arah “Bel.. aku besok salin PR ya, sibuk nih” ucapnya sambil tersenyum kemudian berlari keluar. Mela keterlaluan banget, udah nggak mau nungguin aku negeberesin kertas habis rapat minta salin PR lagi, nggak tau aku juga langgar jam pulang sekolah apa? Tergesa aku berlari keluar sambil membawa penuh kertas hasil rapat ditangan. Hingga didepan pintu tak sengaja aku menabrak pintu yang setengah tertutup itu, yang akibatnya kertas-kertas itu berjatuhan dan berserakan.
“Ahh.. udah telat nih” gerangku kesal. Segera aku bersihkan kertas-kertas sialan itu. Tapi tiba-tiba ada tangan lain yang juga ikut mengambil kertas-kertas hasil rapatku. Aku menoleh kearah sang pemilik tangan berada, seketika aku melongo saat ternyata tangan itu milik seseorang cowok yang telah mencuri perhatianku ikut membantuku. Kak Nando itulah namanya yang aku dengar dari Septa. Sohib sehati dan seperjuangan yang sering bergosip dan berkomentar tentang semua orang di sekolahku termasuk Kak Nando yang sering membuat pelanggaran ala sekolah.
“Ati-ati dong lain kali”ucapnya sambil memberikan kertas-kertas hasil pungutannya kepadaku. Aku hanya terpaku dan tersenyum maksa. Ia membantuku berdiri dari posisi jongkokku yang memalukan untuk ukuran orang sedang nge_fans. Kak Nando langsung berbalik keluar dan menghilang dan aku hanya terdiam. “kak...” panggilku terlambat.
Jantungku seakan mau copot saat ini. Ruang kelas 2C yang penuh dengan kakak-kakak kelas dan semuanya tak kukenal “Bismillah” batinku
“Kak.. kak Nandonya ada?” Tanyaku pada kakak kelas yang berada diluar kelas. Kakak kelas yang satu ini cantik banget kayak model majalah dewasa. Kok majalah dewasa? Karena tampilannya benar-benar sexy. Yang aku tau kakak kelas ini sering dipanggil BP karna pakaiannya yang diluar batas normalnya anak sekolahan.
“Nando!!!” panggilnya keras dari luar kelas sambil sibuk ber-smsan ria. “ dicari anak ilang” ucapnya sambil melirikku. Mentang-mentang aku anak kelas 1 sendiri dipikir anak ilang. Rese banget!. Kak Nando keluar kelas seperti biasa dia menatapku dingin.
“Ada apa?” tanyanya padaku. Tapi kemudian dia menoleh ke arah kak Sexy
“Jangan nguping!! Masuk sana!”bentak Kak Nando. Kak sexy merengut dan langsung masuk kelas.
“Ada apa?” ulangnya. Aku hanya bisa terdiam. Deg-degan gitu loh!! Jadi blank mau ngomong apa.
“Em” suaraku tertahan dan aku hanya bisa garuk—garuk
“Ada masalah?” Tanyanya lagi. Aku hanya bisa terdiam. “Klo lo diem terus gue masuk nih” ancamnya dengan suara meninggi.
“Eh!nggak kak! Jangan! Aku cuman mau ngembaliin bukunya kakak yang kemarin kebawa waktu kakak bantuin aku.... em” ucapku cepat banget, kayak kereta. Tancap terus! Segera aku berikan buku itu yang bikin aku mati rasa sekaligus mati hati gara-gara setengah mati mengalahkan ketakutanku.
“kok ada di elo?” tanyanya heran
“ke.. kan.. kan kemarin keselip dikertas-kertasku.. yang kemarin itu loh kak” ucapku terbata plus bingung menjelaskan awal kejadiannya, perasaan tadi udah aku bilangin deh apa nggak denger ya?
“kemarin? Oh..”
“ma… makasih ya kak..” aku buru-buru berbalik dan berlari secepat mungkin, sebelum aku benar-benar mengganti jantungku dengan jantung yang baru(kalo ada)
Semenjak kamis dag-dig-dug itu keanehan mulai terjadi. Kak Nando gebetanku sepanjang aku mulai sekolah, yah memang sih aku baru kelas 1 tapi aku udah punya rencana gitu buat ngecengin kak Nando sepanjang masa, mulai menyapaku walaupun cuman senyam-senyum, tapi itu udah bikin aku mati gaya,mati gerak, apapun deh yang bisa dimatiin.
“Bellaa.. kak Nando nyapa kamu?Senyum-senyum gitu dia kekamu..” tanya Septa waktu kak Nando dan teman-temannya menjauh
“Emangnya kenapa?” tanyaku sambil tersenyum bangga alias berbunga-bunga.
“Bell... kamu tau kan kak Nando itu sapa?dia kan Noordin M Topnya sekolah ini.. teroris! Yang bisa sekolah kita malu abis-abisan gara-gara dia sering tawuran sama sekolah lain. Apalagi dia pernah ke_gep make, anak-anak langsung gempar aja gitu waktu tau dia kepilih jadi panitia ultah sekolah.. menurut kamu buat apa ya Bu Mentari milih dia? Kan masih banyak anak-anak disini yang kreatif dan termasuk anak yang bisa membanggakan sekolah, contohnya Bekky... bla.. bla..” omel Septa panjang banget
“Bella?” tiba-tiba Septa menyenggalku, merasa nggak didengerin nih
“apa?” tanyaku
“setuju kan kamu?”
“udah lah Ta.. kamu ngomong terlalu panjang.. nggak paham nih otak…. Aku ke ruang meeting dulu ya… bye” akhirku segera kabur
Dua Minggu menjelang hari ultah sekolah yang indah. Kenapa?karena aku sudah kenal Kak Nando bahkan udah akrab sekarang. Gara-garanya kita punya tugas yang sama, yaitu bikin tema dan ngedekorasi buat acara ultah sekolah. Kita jadi sering ngumpul bareng dan jalan bareng. Dari jelas ke nggak jelas. Awalnya jalannya jelas banget dan niat benget, nyari inspirasi, lama-lama jalan iseng-iseng. Dari ke Mall ke Gramedia, ke Taman, sampe Kerumahnya Kak Nando yang gede banget, tapi masih nggak dapet inspirasi, eh tau-tau ada aja tuh ide dari kak Nando yang mengakhiri tugas kita tapi karna keseringan jalan jadi kebiasaan, maka dari tu jadi jelas ke nggak jelas kan? Dan jadilah kita sekarang temen deket yang lengket terus kayak perangko. Sebenernya pengen lebih sih. Hehehe.. tapi udah syukur jadi temennya kak Nando. Tapi deket sama kak Nando bukannya nggak ada konsekuensinya. Hampir anak sesekolahan ngegosipin aku jadian sama kak Nando, yang akibatnya bikin Septa dan Bekky mencak-mencak, termasuk temen-temen kak Nando yang suka menatap benci padaku setiap kami nggak sengaja papasan di jalan, ini memang sesuatu yang aneh kerena anak-anak selalu melihat jelek kak Nando disetiap saat dan setiap kondisi. Dulu waktu pertama kali aku masuk ke sekolahan ini dan menyatakan bahwa kak Nando ganteng teman-temanku pada menatapku dengan kening 15 kerutan. Waktu aku Tanya ada yang aneh mereka bilang bahwa kak Nando adalah salah satu anggota dari geng yang suka bikin rese di sekolahan ini. Dari tawuran,merokok,make and the gank yang jelek-jelek itu Tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku tau kalau kak Nando adalah cowok yang baik sekaligus ganteng. Walaupun kenyataannya aku sering melihat kak Nando masuk BP dalam acara nyidang kelakuannya yang mereka ceritakan padaku.
“Bella.. mau pulang ya? Pulang bareng naik delman yuk” ucap seseorang yang aku tau pasti ini orang rese banget dari belakangku. Siapa lagi kalau bikan Bekky yang pernah mengaku suka banget sama aku dari pertama kali ia melihatku. Nggak pake nanya-nanya nama atau PDKT dia langsung aja nembak dengan kePDannya yang jijay banget itu
“nggak” jawabku ketus
“kalo naik skuter gimana? Kebetulan aku bawa skuter” tawarnya lagi
“nggak” jawabku pelan
“kalo ragu dipikir-pikir dulu aja. Aku bawa dua skuter kok. Satu buat aku satunya buat kamu. Kan asyik kalo siang-siang gini main skuteran di taman” promosinya PD
“what? Kayak aku mau aja. Aku kan udah bilang nggak, udah ah aku mau pulang, capek ngomong sama domba gila” ucapku sambil mempercepat langkah sebelum Bekky mengikutiku lagi
Siang ini nggak ada rapat seperti siang-siang biasanya. Memang persiapan ultah udah beres tinggal hari H.nya aja. Aku sedih banget karena nggak bisa ketemu kak Nando. Walaupun rapat itu ngeboringin asli tapi kalo ketemu kak Nando sih 2 tahun rapat mau-mau aja. Biasanya kak Nando bakal ke kelasku dan kita sama-sama ke meeting room. Dan pulangnya jalan-jalan sambil ngobrol tentang dekorasi dan tema ultah yang seru. Tapi siang ini, tanpa kak Nando hampa malah didatengin domba kesurupan macem Bekky. Kak Nando sebenarnya udah cerita banyak tentang dirinya dan teman-temannya yang biang rese itu. Satu tahun lalu waktu kak Nando baru masuk ke sekolahan ini dia masih polos dan putih tanpa cacat, tapi kondisi merubah segalanya, masa anak-anak yang kurang menyenangkan karena kesibukkan orang tuanya membuat kak Nando terpaksa berontak dengan cara berteman dengan teman-temannya sekarang. Setelah Setengah tahun berlalu kak Nando sudah merasa lelah dengan semua perilaku mereka. Tapi keluar dari geng yang sudah tenar dengan kebengisannya sangatlah sulit bagi kak Nando dan membuatnya makin sulit. Itulah sebabnya kak Nando selalu bersikap diam dan acuh kepada mereka semuanya. Balik lagi masalah siang ini. Gara-gara nggak rapat aku harus rela pulang naik angkot dan berjalan kaki agar aku bisa menikmati kasurku yang empuk itu. 15 menit berlalu di jalan saat aku naik angkot dan saatnya untuk berpanas-panasan di jalan. Setelah membayar segera aku berjalan kaki dengan santai. 2 meter dari sini aku bisa mendengar sesuatu. Seperti orang-orang yang bertengkar. Tawuran deh kayaknya. Sok tau sih. Tapi kan kayaknya. Ngeri banget deh. Aku berusaha berpikir positif. Mungkin bukan tawuran mas-mas pentol aja kali yang lagi berantem. 10 menit kemudian aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres di depanku. Seperti ada orang tergeletak. Ku tajamkan lagi pandangaku. Benar ada orang sedang tersungkur di jalan. Segera aku berlari menuju orang tersebut. Aku berusaha membantunya. Tapi..
“kak Nando” pekikku kaget saat tau orang itu kak Nando. Kak Nando tersungkur dengan banyak memar dan darah di wajahnya. Segera aku bantu ia berdiri dan menaikannya ke dalam becak yang sedang lewat di sebelah kami. Beberapa menit kemudian kami telah sampai ke rumahku yang memang tidak begitu jauh dari tempatku menemukan kak Nando setelah membayar becak kepada abang botak yang mengendarainya segera aku membopong kak Nando agar mudah masuk rumahku yang tidak begitu besar itu. Kak Nando meringis saat aku mencoba membantunya duduk di sofa rumahku. Segera aku mengambil P3K di kotaknya, dengan kemampuan cekak akibat nggak lulus ekskul PMR waktu SMP aku berusaha membersihkan darah yang ada pada wajah kak Nando dengan kapas. Berkali-kali kak Nando meronta.
“Gue nggak pa-pa” bentaknya yang seketika membuatku kaget. “gue benar-benar nggak pa-pa” ucapnya melunak “ jangan sentuh luka gue”
“tapi kak! Entar kalo infeksi makin gawat loh”ucapku polos
“tapi ini sakit banget Bell..”
“pegang tanganku kak.. dulu waktu kakiku kena pecahan kaca mama suruh aku pegang tangannya biar sakitnya berkurang.. aku janji pasti sakitnya kak Nando dikit ilang” tawarku sambil mengulurkan tanganku, kak Nando langsung meletakkan tangannya diatas uluran tanganku yang langsung kugenggam erat, berusaha memberinya kekuatan
“pejamin mata kak Nando… mungkin itu bisa mengurangi sakitnya” anjurku. Kak Nando memejamkan matanya erat. Beberapa menit kemudian luka kak Nando yang tidak telalu parah itu tertutup plester.
“udah... nggak sakit kan kak?” ucapku. Aku segera bangkit untuk mengembalikan P3K kekotaknya di dapur tapi tangan kak Nando yang masih menggenggam tanganku menarikku sehingga aku duduk kembali. Jelas aku kaget dan deg-degan abis. karna kali ini kak Nando tepat didepan mukaku
“jangan tinggalin gue dulu” ucapnya “lo nggak pa-pa?” tanyanya. Aku menggeleng. Padahal aku bohong. Deg-degan nih jantungku
“Makasih ya Bell.. kamu.. kamu udah mau bantuin aku.. padahal ini semua bisa bikin kamu susah banget... kamu udah mau deket sama aku minggu-minggu ini aja udah syukur banget...”
“kenapa jadi kayak gini sih kak?” tanyaku pelan. Kak Nando tersenyum dan memejamkan matanya beberapa detik seperti sedang melepaskan kesedihan dihatinya, kemudian kak Nando menatapku
“udah biasa Bell.. kekerasan dalam hidupku itu selalu ada… dimana pun aku ada… tapi mungkin kali ini lain ceritanya…aku pengen hidup tenang Bell..”
“maksudnya kak?” tanyaku bingung
“aku keluar dari geng itu Bell.. tapi mereka nggak terima dan nggak suka sampai aku dipukulin kayak gini... kalo aja nggak ada...” ucap kak Nando terputus
“nggak ada?” tanyaku
“kalo aja nggak ada sahabatku dari kecil yang juga masuk geng itu.. mungkin.. mungkin aku udah dihabisin sehabis-habisnya sama mereka semua” ucap kak Nando masih menatapku “semuanya udah berakhir Bella... udah berakhir.. oleh karena itu aku mau bilang makasih karena kamu mau tersenyum sama aku.. nggak kayak anak-anak lain yang takut ngelihat aku.. aku nyesel banget karena aku nggak bisa nyenengin orang tuaku Bell.. mereka udah banyak banget berkorban Bell.. aku pengen ngebales semua pemberian mereka selama ini ke aku.. semoga nggak terlambat Bell”
“kak.. di dunia ini nggak ada yang terlambat…”
Malam ini pesta ultah sekolah akan diadakan. Semua persiapan udah beres semenjak 2 minggu yang lalu. Tapi semenjak waktu aku menemukan kak Nando dipukulin oleh teman-temannya aku sudah tidak menemukan kak Nando. Beberapa kali aku mencoba bertanya kepada kak Galuh, sahabat kak Nando yang masih menjadi geng itu, saat dia sedang sendirian tanpa ditemani teman-temannya, dan kak Galuh sendiri tidak tau dan merasa kak Nando sedang marah padanya hingga ia tidak mau menemui kak Galuh saat kak Galuh berkunjung kerumahnya. Hingga malam tiba kak Nando tidak kunjung terlihat, pukul 8 malam aku berusaha menerima kenyataan bahwa kak Nando tidak datang dan memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan dengan sesama panitia, Septa, dan Bekky(yang mencoba menawariku naik skuternya) aku segera keluar dari sekolah. Dengan lesu aku mulai berjalan keluar, tetapi di depan gerbang ada seorang yang berdiri dan menunduk, dan itu... kak Nando
“kak Nando.. akhirnya datang juga” sambutku
“Bella...”
“untung aja aku nggak pulang duluan”
“Bell. Aku cuman mau pamitan..”
“loh.. emangnya kak Nando mau kemana?”
“aku mau pergi”
“pergi?”
“iya.. aku mau dipindahin ke Australia sama orang tuaku.. mereka kecewa banget liat aku babak belur kemarin… tapi kalo ini memang pilihan mereka yang baik aku mau aja Bell.. asal meraka seneng” ucapnya yang seketika bikin aku sedih.
“Australi?” tanyaku tak percaya
“iya.. sekali lagi makasi banget ya Bell.. udah mau memberiku warna kehidupan dan tawa yang tulus… dan makasih ya kamu udah mau sayang sama aku.. nanti kalo aku pulang kamu adalah alasan aku balik ke sini dan kamu adalah orang pertama yang ada dipikiranku... dan.... jadi my first love ya Bell... untuk selamanya...” seketika aku menangis. Kak Nando mengusap air mata itu dan tersenyum. “ beri aku senyum kamu satu kali aja.. kalo nggak mau senyum aku nggak bakal balik.. kan yang bikin aku suka sama kamu senyum kamu yang maksa itu” ucap kak Nando yang langsung bikin aku tersenyum, tapi nggak maksa, aku tersenyum tulus, kak Nando segera berbalik dan masuk ke mobilnya yang ternyata ada kedua orang tuanya yang saat mereka melewatiku tersenyum ke arahku. Kak Nando... aku bakal nunggu kamu sampai kapanpun... cepet balik ya kak...
Dan saat kamu balik nanti kamu adalah satu-satunya di hatiku........
aduh,,, ini mah bkan cerpen,,, tapi cerpan
BalasHapus